ANTONIO GRAMSCI NEGARA DAN HEGEMONI PDF

Biografi dan pemikiran gramsci tentang hegemoni 1. Biografi Gramsci lahir tanggal 22 januari , di Ales, sardinia, dan meninggal di Roma, 27 April , dari keluarga kelas bawah di Pulau Sardania, italia. Itu lah tahun-tahun dimana ia banyak membaca dan belajar pemikiran filosof idealis beneddetto Croce dan memang pada perjalanan hidupnya selanjutnya pikirran-pikiran Croce banyak memepengaruhi Gramsci. Dan ia sangat terkesan pada gerakan kaum buruh di kota Turin, suatu minat yang kemudian mendorongnya untuk bergabung dengan Partai Sosialis Italia PSI di tahun Ia mulai menjalani kehidupan sebagai seorang aktivis dengan bekerja pada koran sosialis, suatu media masa kaum sosialis di kota itu.

Author:Voodooshakar Naramar
Country:Djibouti
Language:English (Spanish)
Genre:Travel
Published (Last):5 April 2008
Pages:256
PDF File Size:5.17 Mb
ePub File Size:2.54 Mb
ISBN:444-8-37545-896-4
Downloads:73934
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Vudotaur



Konsep hegemoni mulai dikenal secara luas dalam kajian-kajian di Eropa dan Amerika Utara semenjak John M. Cammet menerbitkan bukunya yang berjudul Antonio Gramsci and the Origins of Italian Communism pada , yang sebelumnya merupakan disertasi doktoralnya di Columbia University, Amerika Serikat. Semenjak penerbitan buku tersebut, nama Antonio Gramsci dan teori hegemoninya mulai dikenal di berbagai debat dalam dunia akademis berbahasa Inggris. Konsep hegemoni sendiri lahir dan berkembang dalam arus pemikiran Marxisme.

Karena hegemoni sebagai sebuah teori, lahir dari pemikiran kaum Marxist di Russia dalam menghadapi kekuasaan monarki Russia. Karena itu hampir seluruh debat mengenai hegemoni mengalir di dalam arus pemikiran Marxisme. Namun, belakngan ini konsep hegemoni diposisikan menjadi lebih netral dalam melihat berbagai bentuk relasi kekuasaan, baik dalam hal politik, sastra, ekonomi, sosial dan budaya.

Hegemoni memiliki keterkaitan erat dengan konsep kekuasaan dan ideologi, di mana ketiganya bekerja secara simultan, meskipun dapat juga dilihat secara terpisah.

Gramsci melihat hegemoni sebagai praktik dua arah dari dua 1 John M. Tulisan ini mencoba untuk melakukan penelusuran atas konsep hegemoni, dan melihatnya dalam konteks kekuasaan dan ideologi. Keseluruhan tulisan ini akan melihat relasi kekuasaan, hegemoni dan ideologi dalam perspektif Marxisme sampai Post-Marxisme, yang dalam paradigma teoritisnya, menempatkan hegemoni sebagai sentral analisa dalam melihat relasi antara kekuasaan, ideologi dan gerakan sosial.

Relasi kekuasaan power relation macam apakah yang berlangsung antara A dan B? Meskipun begitu banyak juga penulis yang tidak melihat ini sebagai aspek penting kuasa dalam konteks politik. Mereka lebih melihat kuasa dari seorang aktor atas aktor lainnya sebagai hal penting dalam melihat kekuasan politik political power.

Yang pertama disebabkan karena kekuasaan yang membawa hasil-hasil tertentu, yang kedua disebabkan karena kekuasaan memerlukan keterlibatan hubungan sosial 2 Keith Dowding, Power Minneapolis: University of Minnesota Press, , hal. Sementara, dalam pandangan Gramsci hubungan antara A dan B bisa berupa hubungan dominasi langsung atau bisa juga merupakan hubungan yang hegemonik.

Bagaimana membedakannya adalah bagaimana praktik itu dijalankan exercise. Pada bagian ini akan coba diuraikan berbagai perspektif dalam melihat power relation hubungan kuasa secara teoritis. Dalam bukunya Lukes mengajukan konsepsi tiga dimensi tentang kekuasaan three dimensional conception of power untuk mengkritik konsepsi kuasa kaum behavouralist, sekaligus menawarkan sebuah analisa baru yang ia nilai lebih memadai dalam memahami kuasa.

Lukes melakukan kritik atas konsepsi kuasa satu dimensi one-dimensional conception of power dari Robert Dahl5, dan juga konsepsi dua wajah kekuasaan two faces of power dari Peter Bachrach dan Morton Baratz,6 yang disebut Lukes konsepsi dua dimensi tentang kuasa two-dimensional conception of power. Robert Dahl mendefinisikan power sebagai sebuah usaha yang berjalan baik dari A untuk memerintahkan B melakukan sesuatu yang bahkan tidak dikehendaki 3 Keith Dowding, Rational Choice and Political Power Aldhersot: Edward Elgar, , hal.

Mendapatkan sesuatu hasil X dengan menggunakan aktor lain untuk melakukannya mungkin bisa berlangsung dalam cara-cara yang mencolok atau halus. Jarak mencolok dan halus ini bisa dilihat dengan incentive structures struktur insentif , di mana seorang aktor merupakan separangkat biaya sekaligus keuntungan berperilaku di dalam satu cara dibanding cara lainnya.

Secara tipikal aktor-aktor memiliki kekuasaan atas aktor-aktor lainnya sejauh mereka dapat memanipulasi struktur insentif dari aktor- aktor lainnya. Dengan mengambil pilihan-pilihan dari seperangkat pilihan, atau memperhitungkan ongkos sebuah tindakan menjadi lebih tinggi atau lebih rendah, demikian juga dengan membuat keuntungan menjadi lebih besar atau lebih sedikit. Namun, menurut Bachrach dan Baratz, kuasa juga berlangsung pada saat A mencurahkan seluruh energinya untuk menciptakan atau memperkuat nilai-nilai sosial dan politik dan praktik-praktik institusional yang membatasi wilayah proses politik menuju pertimbangan publik terhadap isu-isu yang secara relatif tidak akan merusak A.

A menjalankan kekuasaan atas B power over pada saat pilihan A secara reguler berlaku dalam keputusan atas setiap isu penting mengenai adanya konflik yang jelas, dan pada saat A berhasil dalam mengontrol agenda politik melalui apa yang disebut nondecision untuk mencegah isu-isu yang berpotensi mengancam kepentingan-kepentingan A.

Lukes menilai Bachrach dan Baratz juga gagal sebagaimana Dahl dalam melihat relasi kekuasaan; pertama, karena konsepsi tentang kekuasaan tidak pernah beranjak dengan tetap berfokus pada perilaku aktual aktor sebagai sumber kekuasaan source of power.

Dengan kata lain Lukes menilai bahwa analisa atas kekuasaan seharusnya tidak hanya terfokus pada perilaku aktor dalam konteks otoritas formal dalam pengambilan keputusan serta dinamika aktual yang melingkupi agenda formal, tetapi juga harus lebih melihat kompleksitas dan arena yang lebih luas. Karena itu Lukes menganjurkan pentingnya pendekatan sosiologis untuk memahami hubungan kekuasaan secara lebih dalam.

Jadi Lukes secara umum melihat kuasa sebagai ideologi dominan, sebagai sebuah bentuk produksi mental dalam masyarakat. Di dalam Lukes kuasa adalah seperangkat preferensi yang menentukan suatu bentuk, sebagai ideologi dominan, yang ia 7 Robert A. Dahl, op. Baratz, op. Juga gagal dalam melihat bahwa kuasa juga menyertakan upaya aktor A untuk mencegah konflik dengan maksud mempengaruhi, membentuk atau menentukan keinginan dari B. Berbeda dengan Lukes, Talcott Parsons dan Nicos Poulantzas melihat kekuasaan dalam pandangan strukturalis.

Parsons, seorang teoritisi struktural-fungsionalis, tidak memahami kuasa power dalam istilah hubungan di antara agen-agen sosial, mereka sebagai individu-individu, kelompok-kelompok atau negara-negara.

Kuasa dipahami Parsons sebagai bagian dari sistem-sistem sosial. Kuasa berarti memiliki kontrol atas hasil output , atau dalam bahasa Parsons, A specific mechanism operating to brings about changes in the action of other units, individual or collective, in the process of social interaction. Fungsional ini mensyaratkan kecocokan terhadap sub-sistem sosial yang berbeda. Sub-sistem politik menitikberatkan perhatiannya pada problem pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan secara kolektif mensyaratkan performa kewajiban yang mengikat setiap unit di dalam sistem, dan kuasa didefinisikan 10 Steven Lukes, op.

Pada saat semuanya dilegitimasi dengan merujuk pada tujuan-tujuan kolektif mereka, dan ketika pada situasi di mana terjadi keadaan yang berlawanan, di situ akan ada asumsi berupa pelaksanaan sanksi-sanksi.

Foucault memandang bahwa kuasa tidak melekat pada subyek sebagaimana dalam pandangan Lukes, maupun dalam struktur sosial maupun kelas sosial sebagaimana Parsons maupun Poulantzas. It is never localised here or there, never in 15 Ibid. Power is employed and exercised through a net-like organisation. And not only do individuals circulate between its threads; they are always in the position of simultaneously undergoing and exercising this power.

They are not only its inert or consenting target; they are always the elements of its articulation. In other words, individuals are the vehicles of power, not its point of application.

Meskipun dalam ranah pemikiran mengenai kuasa perdebatannya masih belum berujung pada titik temu, namun dari perbedaan tersebut bisa kita lihat bagaimana konsep kuasa berkembang. Lalu dari dua konsep hegemoni dan kuasa, bagaimana kita bisa menarik sebuah relasi yang berkaitan dan logis antara satu dengan lainnya?

Bagaimana bisa menjahit dua konsep tersebut dalam sebuah analisa mengenai hubungan kuasa dan hegemoni? Di bagian terakhir ini saya mencoba untuk melihat keterkaitan kedua konsep tersebut, ditambah dengan konsep ideologi, yang dalam pandangan saya tidak dapat dipisahkan dengan hegemoni dan kuasa. Hegemoni: Genealogi Sebuah Konsep Hampir sebagian besar perdebatan mengenai konsep hegemoni mengerucut kepada satu nama: Antonio Gramsci.

Tidak dapat disangkal bahwa Gramsci merupakan filsuf dan aktivis politik yang mengembangkan teori hegemoni, yang ia gunakan untuk melihat perjuangan kaum buruh di Italia di bawah rezim fasis Benito Mussolini.

Meskipun jauh sebelum Gramsci konsep hegemoni sudah dikembangkan untuk melihat kegagalan perjuangan buruh di Rusia. Konsep hegemoni sendiri, dalam pemikiran Marxisme, awalnya diperkenalkan oleh George Plekhanov dan juga Vladimir Lenin. Ia mengatakan hanya melalui perjuangan politik yang dapat memacu dan mempercepat terciptanya gerakan emansipasi yang luas. Gerakan ini yang akan memiliki kekuatan untuk merobohkan bangunan besar bernama absolutisme.

Kedua, kaum proletariat di Rusia, sebagai kekuatan independen, harus dapat terlibat secara giat dan sungguh-sungguh dalam perjuangan yang sedang maupun akan datang untuk meruntuhkan absolutisme, dan membawa kepentingan-kepentingan mereka sendiri self-interests , dalam artian tidak terkontaminasi oleh kepentingan elit politik borjuis.

Untuk mencapai hal tersebut, Plekhanov menyimpulkan bahwa peran khusus harus dapat dimainkan oleh kaum intelektual sosialis, yang harus secara benar menjalankan tugas untuk menelurkan kesadaran kaum proletariat. Lihat juga Samuel H. Jadi, secara umum Lenin melihat hegemoni sebagai kepemimpinan politik kelas buruh dalam aliansi kelas- kelas yang lebih luas. Salah satu sentrum pemikiran Antonio Gramsci adalah konsepsinya tentang hegemoni.

Menurut Gramsci, hubungan antara kaum intelektual dan wilayah produksi dalam istilah Marx hubungan produksi bersifat tidak langsung, tidak seperti kelompok-kelompok sosial yang secara fundamental masuk ke 26 Lester menambahkan bahwa asosiasi tersebut merupakan hal-hal utama dalam perjuangan politik, yakni: aliansi kelas secara temporer, bagaimana memelihara otonomi kelas tanpa aliansi dengan kelas manapun, dan pentingnya menumbuhkan kesadaran yang dibentuk oleh kaum intelektual organik merupakan ranah yang sengat penting, bukan hanya dalam keterbatasan konsep hegemoni Plekhanov, tetapi dalam menciptakan poin-poin referensi di masa depan atas terminologi yang telah secara dalam digunakan secara luas dan signifikan oleh para pemikir revolusioner Russia berikutnya, terutama Lenin.

Lihat Jeremy Lester, op. Smith London: Lawrence and Wishart, , hal. Lebih jauh lagi, Roger Simon menulis bahwa poin awal konsep hegemoni adalah bahwa sebuah kelas merepresentasikan dan menjalankan kekuasaan atas kelas-kelas yang tersubordinasi melalui kombinasi cara-cara kekerasan coercion dan persuasif persuasion. Intinya bagaimana mengorganisir kesepakatan atau persetujuan bersama. Kaum proletar dapat mengambil kepemimpinan atas kekuatan-kekuatan lainnya dalam melawan kapitalisme dengan mengubah arah politik kekuatan-kekuatan yang pasti, dan dapat menyerap blok historis dari politik-ekonomi menjadi lebih homogen, tanpa harus menciptakan kontradiksi 29 Roger Simon, op.

Momen pertama dan merupakan momen yang paling dasar adalah momen economic-corporate level: seorang pedagang merasa memiliki kewajiban moral untuk saling mendukung dengan pedagang lainnya, demikian juga dengan usaha manufaktur yang satu dengan lainnya, dan lain-lainnya, tetapi si pedagang belum memiliki perasaan solidaritas dengan mereka yang berusaha di bidang manufaktur. Momen kedua adalah momen di mana kesadaran dapat dicapai pada tahap persamaan kepentingan solidarity of interest di antara seluruh anggota di dalam kelas sosial — tetapi kepentingan yang masih dalam tingkat yang murni pada wilayah ekonomi.

Momen ketiga adalah momen di mana satu kelompok menjadi sadar akan pentingnya memiliki satu kepentingan yang lebih luas dan berhubungan di atas kepentingan-kepentingan lainnya, dalam membangun masa kini dan masa depan seluruh kelompok, melampaui batasan sekedar hanya kepentingan ekonomi belaka, dan dapat serta harus juga menjadi kepentingan-kepentingan kelompok- kelompok lain yang tersubordinasi. Hubungan erat antara kaum intelektual organik dan kelas mereka merupakan proses yang dialektis: mereka melahirkan atau mematerialkan bentuk-bentuk pengalaman kaum kelas pekerja, dan pada saat bersamaan menanamkan kesadaran teoritis kepada mereka.

Meskipun berpijak pada teori hegemoni Gramsci, Laclau dan Mouffe mengajukan sejumlah kritik terhadap Gramsci. Selain itu, dasar analisa mereka berpijak pada sebuah perbedaan penting, di mana Gramsci paradigma teoritiknya berpijak pada analisa kelas, sementara Laclau dan Mouffe memijakkan paradigma teoritiknya pada analisa wacana discourse analysis.

The object is a football only to extent that it establishes a system of relations with other objects, and these relations are not given by the mere referential materiality of the objects but are, socially constructed. Bagi Laclau dan Mouffe, hegemoni merupakan praktik artikulasi yang membangun nodal points titik temu dari sebuah rangkaian yang secara parsial memperbaiki makna dari yang-sosial dalam sebuah sistem difference yang terorganisasi.

Laclau dan Mouffe melihat bahwa hegemoni akan muncul dalam situasi antagonisme, misalnya rezim yang menindas rakyat, yang memungkinkan terbentuknya political frontier. Political frontier akan menciptakan pertarungan hegemonik, di mana dalam situasi ini akan terbangun apa yang disebut chain of equivalence di antara kelompok sosial yang melakukan resistensi terhadap rezim penindas. Formasi sebuah keinginan kolektif bukanlah konsekuensi dari tekanan ideologis kelas dominan atas kelas-kelas lainnya, melainkan produk reformasi moral dan intelektual, yang mengartikulasikan kembali elemen-elemen ideologis.

Jadi, secara umum bisa dikatakan bahwa hegemoni dalam pemahaman Gramsci adalah mengorganisir persetujuan — proses yang dijalankan melalui bentuk-bentuk kesadaran yang tersubordinasi dibentuk tanpa harus melalui jalan kekerasan atau koersi.

Blok penguasa ini tidak hanya beroperasi di tataran ruang politik political sphere , tetapi juga di seluruh masyarakat. Dalam pandangan Louis Althusser, proses seperti dominasi negara terhadap masyarakat berlangsung melalui aparat-aparat ideologi negera idelogical state apparatuses yang membentuk kesadaran palsu dalam masyarakat, dan membentengi masyarakat dari pembentukan pengetahuan akan adanya eksploitasi dan penindasan.

Kesadaran palsu membentuk masyarakat menyetujui tindakan-tindakan yang diambil oleh negara, sekalipun tidak berkesesuaian dengan kepentingan mereka. Proses ini yang disebutnya proses hegemonisasi yang membuat kelas yang menguasai negara dapat bertahan lama.

Dalam konteks ini Gramsci membedakan dua bentuk hegemoni yakni: transformisme transformism dan hegemoni ekspansif expansive hegemony. Kedua bentuk ini melibatkan sebuah proses simultan revolusi-restorasi revolution-restoration. Restorasi cenderung mendominasi bentuk transformisme, sementara revolusi cenderung mendominasi bentuk hegemoni ekspansif. Transformisme bisa dilihat sebagai tipe defensif dari politik, yang diikuti oleh kekuatan hegemonik dalam sebuah situasi krisis ekonomi dan politik, melibatkan penyerapan secara gradual namun terus-menerus, dicapai melalui metode yang selalu berubah-ubah sesuai dengan efektifitas elemen-elemen aktif yang 37 Antonio Gramsci, Prison Notebooks, hal.

Hegemoni ekpansif dapat dicirikan sebagai anti revolusi pasif. Strategi dari hegemoni ekspansif adalah strategi yang berusaha menandingi upaya kaum borjuis untuk menjaga kepemimpinannya dengan menata ulang dan rekomposisi kekuatan blok hegemonik. Juga merupakan bentuk strategi ofensif untuk membangun konsensus aktif untuk memobilisasi massa dalam sebuah revolusi yang meliputi perubahan superstruktur politik dan ideologis, dan juga infrastruktur ekonomi.

Hegemoni ekspansif meliputi formasi keinginan bersama dengan karakter nasional-populer, yang dapat memajukan perkembangan utuh tuntutan partikular, dan akhirnya memimpin revolusi dari kontradiksi yang sudah dimunculkan. Namun Gramsci tetap menitikberatkan bahwa perjuangan hegemonik masih menempatkan buruh sebagai aktor utama dalam pembentukan new historical block sebagai tahap paling politis dari proses hegemoni. Ernesto Laclau menambahkan dimensi-dimensi lain dari pemikiran Gramsci tersebut.

Berbeda dengan Gramsci, Laclau tidak lagi memfokuskan kelas buruh sebagai agen praktik hegemoni. Laclau mengajukan tesis mengenai gerakan sosial baru, yang bisa mengisi ruang kosong dalam gerakan-gerakan sosial, ketika gerakan buruh melemah, dan menjadi kekuatan yang tidak strategis dalam gerakan sosial di penghujung abad duapuluh.

Menurut Laclau, jika perjuangan hegemonik ingin berhasil, yang harus diperhatikan adalah tidak menempatkan logika yang diartikulasikan oleh semua bentuk eksternal ke dalam ruang partikular.

CCAG TIC 2011 PDF

Jual Buku Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni

Sebagaimana yang dikemukakan encylclopedia Britanica dalam prakteknya di Yunani, diterapkan untuk menunjukkan dominasi posisi yang diklaim oleh negara-negara kota polism atau citystates secaara individual misalnya yang dilakukan opleh negara Athena dan Sparta terhadap negara-negara lain yang sejajar Hendarto, Dalam politik internasional dapat dilihat ketika adanya perang pengaruh pada perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Sovyet yang biasanya disebut sebagai perang untuk menjadi kekuatan hegemonik dunia. Kelompok yang didominasi oleh kelompok lain penguasa tidak merasa ditindas dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi. Masyarakat kelas dominan merekayasa kesadaran masyarakat kelas bawah sehingga tanpa disadari, mereka rela dan mendukung kekuasaan kelas dominan. Refleksi Berdasarkan pemikiran Gramsci tersebut dapat dijelaskan bahwa hegemoni merupakan suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya. Pasar modern ini contohnya ada berbagai macam, diantaranya yang saya tahu adalah mini market Alfamart,Indomaret, dsb lalu adanya Mall yang dekat dengan rumah saya yaitu Metropolitan Mall, Giant, Bekasi Cyber Park, Bekasi Square, dsb.

GHASHIRAM KOTWAL VIJAY TENDULKAR PDF

Konsep Hegemoni Antonio Gramsci

Grolabar Gramsci percaya bahwa perjuangan masyarakat umum untuk menciptakan budaya proletar yang sistem nilai aslinya melawan hegemoni budaya kaum borjuis harus melalui perang budaya dan pengetahuan tentang antikapitalisme. Malay words that begin with h. Project Page Feedback Known Problems. We will not remove aantonio content for bad language alone, or being critical of a particular book. Tidak seperti globalisasi neoliberal, globalisasi kontra-hegemoni menggunakan pemikiran globalisasi untuk menolak segala bentuk dominasi oleh hegemoni dan mengoperasikan proses bawah-ke-atas yang mengutamakan penguatan wilayah tingkat lokal. Patria, Nezar Load a random word. Want to Read saving….

DOMINE HTML5 Y CSS 2 PDF

TEORI HEGEMONI MENURUT GRAMSCI

Rangkuman buku Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni 1. Konsep hegemoni terkait pengembangannya terhadap filsafat praxis Filsafat Praxis adalah suatu istilah yang dipakai oleh Gramsci untuk menyebut marxisme. Hal itu terjadi karena di dalam penjara, aktivitas Gramsci sebagai seorang pemberontak pada masa Mussolini terus disorot, dikontrol dan diawasi secara ketat. Tentunya kita perlu mengulas balik tentang poin-poin penting teori Marxian dan yang akhirnya menjadi titik keberangkatan teori-teori Gramsci.

Related Articles